Sejarah Pertentangan dan Kudeta Yang Dilakukan Kelompok Komunis Terhadap Pemerintah di Russia, China, dan Korea
A. Russia
Sebelum tahun 1905 Russia merupakan negara yang berbentuk kekaisaran, tetapi pada tahun 1905 – 1917 rakyat Russia melakukan pemogokan dan memaksa Tsar mengubah konstitusi negara. Akhirnya pada bulan Oktober tahun 1905 Tsar membentuk sebuah badan legislatif atau parlemen sebagai perwakilan rakyat yang disebut Duma. Badan legislative ini dipimpin oleh Presiden dan mulai aktif pada tahun 1906. Sehingga negara Russia yang sebelumnya merupakan negara kekaisaran berubah menjadi Negara Monarki Konstitusional.
Pada tanggal 2 Maret 1917, terjadi revolusi Februari yang menghasilkan pembentukan pemerintah sementara non-monarki yang memaksa Tsar Nicholas II menandatangani dekrit pengunduran diri yang kemudian diberitahukan kepada masyarakat umum pada tanggal 4 Maret 1917.
Setelah penandatanganan tersebut Russia telah berubah dari Negara Monarki Konstitusional (Nasionalis) menjadi Pemerintahan Sementara Non-Monarki (nasionalis). Setelah itu terjadilah “Bolsheviks Revolution” yaitu kudeta yang dilakukan kaum komunis terhadap pemerintahan sementara yang dibentuk pada bulan Februari. Hal ini disebabkan komunis bisa memanfaatkan situasi negara yang yang kacau dan berhasil mengkambinghitamkan pemerintah yang sah, sehingga banyak tantara pemerintah yang desersi. Kaum komunis Russia melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap kaum nasionalis maupun kepada pendukung Tsar Nicholas II, terutama dilakukan oleh milisi komunis yang disebut sebagai tantara merah yang sebagian besar direkrut dari para pekerja pabrik.
Pada saat kudeta bulan Oktober itu, pemerintah yang sah telah melakukan pemilihan umum untuk membentuk All- Russian Constituent Assembly yang dilaksanakan kemudian pada bulan November sesuai rencana semula. Dikarenakan hasil dari pemilihan tersebut menyatakan bahwa partai komunis Bolsheviks kalah telak, maka secara sepihak Badan Konstitusi tersebut dibubarkan pada Januari 1918.
Lalu, pada tahun 1918 – 1920 terjadilah peperangan antara nasionalis (termasuk sosialis non-komunis), pendukung Tsar, dan komunis. Seluruh keluarga Tsar dianggap telah dihabisi dengan pembantaian terakhir sisa keluarga Tsar pada bulan Juli 1918. Pembantaian terakhir sisa keluarga Tsar tersebut terjadi sampai tahun 1919, dan dilanjutkan pada program pembersihan kaum nasionalis. Partai Komunis Bolsheviks dirubah Namanya menjadi Communist Party of The Soviet Union (CPSU) pada tahun 1919.
Di tahun 1987 – 1989 sebelum terbentuknya Uni- Soviet, Mikhail Gorbachev selaku Presiden Soviet telah mendorong reformasi yang disebut ‘glanost’ (keterbukaan) dan ‘perestroika’ (restrukturisasi).
Dan pada tahun 1990 terbentuklah Uni-Soviet Sosialist Republic (komunis). Puncaknya terjadi pada tahun 1991 dimana terjadinya kudeta yang dilakukan oleh komunis garis keras, kudeta ini juga dikenal sebagai ‘Kudeta Agustus’. Kudeta ini merupakan upaya untuk mengambil alih negara dari Mikhail Gorbachev, Presiden Soviet yang juga merupakan Sekertaris Jendral CPSU. Para pemimpin kudeta terdiri dari pejabat tinggi militer dan sipil yang membentuk Komite Negara untuk Keaadaan Darurat (GKChP) salah satunya ialah Boris Yeltsin (Presiden Russia) yang merupakan penentang program reformasi Gorbachev. Kudeta ini menyebabkan keruntuhan langsung Partai Komunis Uni Soviet dan pembubaran Uni Soviet.
Pada tanggal 25 Desember 1991, Mikhail Gorbachev mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Soviet. Dalam pidato pengunduran dirinya, Gorbachev menyatakan bahwa, sebagai akibat dari program reformasi perestroika-nya, masyarakat telah memperoleh kebebasannya.
B. China
Pertengahan abad 19 wilayah Asia Timur terdiri dari Tiongkok, Korea, dan Jepang masih menerapkan politik isolatif (sakoku). Kondisi awal Tiongkok masih menerapkan sistem kekaisaran yang diperintah oleh dinasti asing yaitu Dinasti Manchu. Kekuasaan Manchu berkuasa di Tiongkok selama 300 tahun dan berakibat munculnya gerakan anti dinasti Manchu. Dampak dari munculnya gerakan anti asing di Tiongkok mengakibatkan runtuhnya dinasti Manchu pada tanggal 12 Februari 1912.
Gagasan untuk mengakhiri Manchu menimbulkan sebuah revolusi di Tiongkok yang didasari keinginan untuk menghapuskan sistem kerajaan dan menerapkan sistem republik di Tiongkok. Titik puncaknya pada tanggal 1 Januari 1912 didirikan Republik Tiongkok. Jabatan Presiden pertama dipegang oleh Sun Yat Sen.
Transisi kekuasaan di Republik Tiongkok menimbulkan masuknya paham komunis dari Uni Soviet. Faktor tersebut karena kebijakan Sun Yat Sen mengenai reorganisasi terhadap Partai Kuomintang (kekuatan nasionalis china) melalui perjanjian kerjasama antara Soviet dan Kuomintang dalam pendanaan Whampoa Military Academy. Lenin merencanakan bahwa setelah China berhasil mengalahkan Jepang, maka kekuatan komunis China sudah bisa melakukan perlawanan terhadap nasionalis (Kuomintang).
Pasca meninggalnya Sun Yat Sen pada tahun 1925, kekuasaan dipegang oleh Chiang Kai Shek. Pemerintahan nasionalis semakin radikal dan semakin menguatkan kaum nasionalis di kekuasaan. Kaum komunis keluar dari aliansi bersama dengan kaum nasionalis. Konflik antara kaum nasionalis dan kaum komunis bertujuan untuk merebutkan kekuasaan di Republik Tiongkok. Konflik tersebut terjadi karena intervensi asing yaitu Uni Soviet yang menginginkan perluasan paham komunisme di Republik Tiongkok serta melakukan kudeta kekuasaan dari pemerintah nasionalis. Kaum komunis melakukan Long March dari Tiongkok Selatan ke Tiongkok Utara (Shensi Utara) untuk meminta bantuan Uni Soviet akibat terdesak pasukan nasionalis.
Uni Soviet juga berusaha membantu pihak komunis pimpinan Mao Tse Tung untuk memenangkan pengaruh di Tiongkok. Komunis berhasil melakukan kudeta kepada Republic of China (Tiongkok) dan mengganti ideologi negara menjadi komunis dengan nama People’s Republic of China.
Akhirnya konflik antara kaum nasionalis dan komunis berakhir pada tahun 1949. Konflik ini diakhiri dengan kekalahan kaum nasionalis dan Chiang Kai Shek beserta pasukannya melarikan diri ke Taiwan (Formosa) serta mengungsikan berkas – berkas penting dan benda – benda seni yang kemudian disimpan di National Palace Museum di Taipei, sedangkan Mao Tse Tung mendeklarasikan pembentukan Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1949. Konflik antara nasionalis dan komunis mengakibatkan Republik Tiongkok berpaham komunis.
Pada tanggal 7 Desember 1949 Chiang Kai Shek memproklamasikan Taipei sebagai ibukota darurat dari Republik Rakyat China. Kekuasaan Republic of Chian sebagai perwakilan China yang sah tetap diakui PBB sampai tahun 1972 ketika dukungan Amerika berubah kepada People’s Republic of China, sehingga kuri PBB akhirnya diberikan kepada komunis China.
Tahun 1917, China (komunis) masuk menjadi anggota PBB setelah mendapat dukungan Amerika dan langsung menggeser kenaggotaan dewan keamanan PBB yang saat itu dipegang China (non-komunis). Tahun 1972, Presiden Amerika, Richard Nixon mengunjungi People’s Republic of China dan menyatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari China. Hal ini merupakan kemunduran diplomatic bagi Chiang Kai-shek yang saat itu menderita sakit dan pemerintahan Republic of China diserahkan kepada anaknya yang bernama Chiang Ching-kuo. Chiang Kai-shek wafat pada 5 April 1975. 1949 menjadi tahun dimana berdirinya People’s Republic of China (komunis) dan Republic of China (Taiwan) (nasionalis). Taowan diakui sebagai pemerintahan China yang sah. Sampai akhir hayatnya, Chiang, mengendalikan kursi China di PBB. Kudeta kaum komunis di China terinspirasi keberhasilan Kaum Bolshevik di Russia dan merupakan Faktor pendorong timbulnya konflik antara kaum nasionalis dan kaum komunis
C. Korea
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyatakan penyerahan tanpa syarat kepada Tentara Sekutu dan kemerdekaan yang telah lama diharapkan rakyat Korea mandek tiba. Pada hari itu, para pemimpin negara, termasuk Yeo Un-hyeong, membentuk Komite Persiapan kepada Pendirian Negara Korea. Berbagai aktivitas diselenggarakan di seluruh negeri kepada mendukung persiapan itu. Para pejuang kemerdekaan yang berjuang di luar negeri kembali ke Korea. Pada 6 september di Seoul dideklarasikan negara Korean People’s Republic (KPR).
Namun, Amerika Serikat memiliki rencana kepada membagi Semenanjung Korea sepanjang pararel ke-38 menjadi dua zona operasi militer kepada Amerika Serikat dan Uni Soviet. . Sekutu bersua di Moskow dan membuat rencana pembentukan Komisi Gabungan Amerika Serikat - Uni Soviet artian mendirikan pemerintahan di Korea dan mengendalikannya di bawah perwalian 5 tahun. Rencana ini didorong rakyat Korea yang menganggap hal tersebut merupakan pelecehan terhadap usaha dan perjuangan mereka kepada merdeka dari penjajahan selama 36 tahun. Rakyat Korea melakukan protes besar-besaran di seluruh negeri kepada menentang Kebijakan Moskow, namun di awal 1946, komunis di Korea Utara dan Korea Selatan mendukung kebijakan tersebut karena ditekan oleh Uni Soviet. Sebanyak 2 juta orang yang menentang rencana tersebut mengungsi dari Korea anggota utara ke selatan. Selama periode 1946 sampai 1948, otoritas Soviet memberikan dukungan penuh kepada pemimpin komunis Kim Il-sung.
Kim yang datang ke Korea dengan pasukan Uni Soviet telah menjadi boneka komunis yang berpengaruh di Korea anggota utara. Setelah menyingkirkan semua organisasi nasionalis, Kim Il-sung menjadi pemimpin Pemerintahan Korea Sementara di bawah kemudi Uni Soviet. Dengan pengaruh negara komunis tersebut, Kim Il-sung mengkomuniskan Korea Utara.
Pada awal tahun 1946 diadakan konferensi American-Soviet Joint Comission membahas Korea, namun tidak bisa dicapai kesepakatan karena Amerika mendukung Korea bersatu dibawah negara nasionalis yang dibentuk pada 6 September 1945, sedangkan Soviet mendukung Korea bersatu dibawah negara komunis hasil bentukannya di Pyongyang pada 8 Februari 1946. Dengan demikian, semenjak saat itulah secara resmi Partai Komunis Korea melakukan kudeta terhadap negara hasil pertemuan berbagai faksi dan elemen pada 6 September 1945 di Seoul.
Karena perundingan Amerika-Soviet selalu gagal, maka pada tahun 1947 PBB mengambil alih dan membentuk komite bernama UN Temporary Committee on Korea (UNTCOK) dan merencanakanmpemilihan umum di seluruh Korea (yang dikuasai Amerika maupun Soviet). Namun, Soviet tidak mengakui UNTCOK dan menolak pemilu di wilayah yang dikuasainya. Setelah dilakukan pemilu pada 26 Februari 1948, maka pada 15 Agustus diproklamasikan Republic of Korea dan diakui sebgai satu – satunya negara resmi Korea. Sedangkan komunis yang telah menguasai Korea bagian Utara mengadakan pemilu tandingan dan mendeklarasikan negara komunis bernama Democratic People’s Republic of Korea.
Daftar Pustaka.
Adi Wijaya, Deni. 2015. "Konflik Perebutan Kekuasaan Antara Kaum Nasionalis dan Komunis di Repulik Tiongkok Tahun 1912 – 1949" dalam UNEJ JURNAL PENDIDIKAN 2015 Volume 1 (hlm. 1-3). Jember: Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember (UNEJ)
BBC.com. 2016. Mikhail Gorbachev: Uni Soviet Dihancurkan Oleh Pengkhianatan. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-38311912, diakses pada 4 September 2021.
eduNitas.com. 20. Sejarah Korea Selatan. https://wiki.edunitas.com/ind/114-10/Korea-Selatan_14135__eduNitas.html, diakses 4 September 2021.
Taufiqurrahman. 2018. Pendidikan Pancasila. Ponorogo: UNIDA Gontor Press.
Tirto.id. 2019. "Chiang Kai-shek: Diktator Cina Nasionalis yang Keok Melawan Komunis", https://tirto.id/chiang-kai-shek-diktator-cina-nasionalis-yang-keok-melawan-komunis-dk33, diakses pada 4 September 2021.
Wikipedia. Upaya Kudeta Uni Soviet 1991. https://id.wikipedia.org/wiki/Upaya_kudeta_Uni_Soviet_1991, diakses pada 4 September 2021.
Komentar
Posting Komentar